jump to navigation

Jadi kutu loncat atau loyalis? July 17, 2008

Posted by dezul in Career.
Tags: , , , , , ,
trackback

Pagi tadi ketika membuka milist, ada satu topik menarik ketika seorang teman yang sudah bekerja di suatu perusahaan minyak berusaha untuk membajak teman yang lain untuk pindah dari perusahaannya untuk bergabung dengan perusahaan dimana teman itu bekerja saat ini. Meskipun tidak menyebutkan jumlah salary (faktor utama yang menyebabkan seseorang menjadi “kutu loncat”), banyak juga teman yang akhirnya tertarik dengan tawaran teman tersebut. Mungkin tema seperti ini sudah menjadi rahasia umum dimana orang lebih memilih untuk mencari tempat kerja baru (apapun alasannya) dibandingkan menjadi loyal di satu perusahaan. Bahkan ada teman yang bilang kalo jadi loyalis di suatu perusahaan itu tidak keren.

Ada banyak alasan seseorang untuk menjadi seorang “kutu loncat”, diantaranya:

  1. Salary (gaji). Faktor ini merupakan alasan yang paling dominan diutarakan seseorang ketika memutuskan untuk pindah kerja ke perusahaan lain. Kenaikan gaji merupakan alasan kuat untuk pindah kerja bahkan untuk seorang karyawan yang paling loyal sekalipun.
  2. Jenjang karir. Bekerja lama di suatu perusahaan tanpa adanya promosi atau bahkan yang lebih parah lagi karena tidak adanya jenjang karir yang jelas akan menjadi alasan kuat lainnya untuk pindah kerja.
  3. Mencari perubahan lingkungan kerja. Karyawan mungkin merasa frustrasi dengan situasi ataupun sistem di lingkungan kerja lama, bosan ataupun jenuh dengan job desk selama ini sehingga ingin mencari tantangan baru, ataupun sebal dengan posisi yang telah dilakoni selama bertahun-tahun.

Meskipun dengan menjadi “kutu loncat” dapat memberikan keuntungan seperti salary yang lebih tinggi ataupun kesempatan untuk menjalin networking dengan orang-orang baru, seorang “kutu loncat” jangan terlalu cepat untuk bergirang hati karena HR manager, ketika melihat CV, sering melihat berapa lama kandidat bertahan dalam satu perusahaan. Jika sering pindah kerja tanpa alasan yang tepat, ini merupakan suatu peringatan: mungkin si kandidat tidak dapat bekerja sama dengan koleganya, mungkin ia terlalu individualistis dan bukan team player, mungkin ia tidak punya kesetiaan, atau mungkin hasil kerjanya selalu dinilai jelek oleh atasannya.

So, ingin tetap jadi loyalis atau “kutu loncat”? Anda yang tau jawabannya

Comments»

No comments yet — be the first.